Lautan : Paru-Paru Sejati Bumi yang Semakin Terancam oleh Perubahan Iklim

Paru-Paru Sejati Bumi yang Semakin Terancam oleh Perubahan Iklim

Dalam imajinasi populer, hutan hujan tropis seperti Amazon sering disebut sebagai "paru-paru Bumi" karena perannya dalam memproduksi oksigen. Namun, narasi ini telah lama dibantah oleh sains. Faktanya, lautan lah yang menjadi penghasil oksigen terbesar di planet kita, menyumbang sekitar 50% atau lebih dari total oksigen atmosfer.  Pendapat saya, kita perlu menggeser fokus konservasi global dari daratan ke lautan, karena data terkini menunjukkan bahwa produksi oksigen ini sedang mengalami ancaman serius akibat pemanasan global, yang bisa berdampak pada kelangsungan hidup semua makhluk di Bumi.

Proses produksi oksigen di lautan dimulai dari mikroorganisme kecil yang sering diabaikan: fitoplankton. Makhluk-makhluk mikroskopis ini, termasuk alga dan bakteri fotosintetik, melakukan fotosintesis mirip dengan tumbuhan darat. Mereka mengubah karbon dioksida (CO₂) dan air menjadi energi serta oksigen menggunakan sinar matahari. Menurut estimasi dari NASA dan NOAA, fitoplankton di lautan bertanggung jawab atas setidaknya separuh produksi oksigen global, dengan angka yang bisa mencapai 50-70% tergantung pada variasi musiman dan lokasi.  Salah satu spesies kunci adalah Prochlorococcus, bakteri fotosintetik terkecil di Bumi yang hidup di lautan terbuka. Spesies ini saja diperkirakan menghasilkan hingga 20% oksigen planet kita—lebih banyak daripada kontribusi netto dari seluruh hutan tropis yang hanya sekitar 6-9%.  Ini adalah fakta yang mengejutkan, mengingat Prochlorococcus baru ditemukan pada 1980-an, tapi perannya vital dalam menjaga keseimbangan atmosfer.

Meskipun lautan menghasilkan oksigen dalam jumlah besar, tidak semua oksigen ini langsung mencapai atmosfer yang kita hirup. Sebagian besar dikonsumsi kembali oleh ekosistem laut itu sendiri melalui respirasi hewan laut, dekomposisi, dan proses biologis lainnya. Oksigen yang dilepaskan ke udara berasal dari akumulasi jangka panjang, tapi produksi saat ini tetap krusial untuk menjaga level oksigen stabil. Di sini, opini saya muncul: Mitos "hutan sebagai paru-paru" telah membuat kita kurang memperhatikan lautan, padahal data ilmiah menunjukkan sebaliknya. Hutan memang penting untuk biodiversitas dan penyerapan karbon, tapi lautan adalah mesin oksigen utama yang mendukung kehidupan di darat.

Sayangnya, data terkini dari 2025 menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Pemanasan global menyebabkan penurunan populasi fitoplankton, termasuk Prochlorococcus, karena suhu lautan yang meningkat mengganggu siklus nutrisi dan fotosintesis.   

Sebuah studi dari MIT dan University of Washington memprediksi bahwa pemanasan bisa mengurangi populasi Prochlorococcus hingga 51%, yang berpotensi menurunkan produksi oksigen samudra secara keseluruhan hingga 10%. Selain itu, lautan semakin kehilangan "kehijauannya" karena penurunan fitoplankton, yang juga melemahkan kemampuan planet untuk menyerap CO₂.  Di Mediterania barat laut, produksi fitoplankton bahkan turun 40% dalam 20 tahun terakhir karena perubahan angin dan jet stream subtropis. Ini bukan sekadar statistik; ini ancaman nyata terhadap rantai makanan laut dan kualitas udara global.

Dari perspektif opini, kita harus segera bertindak. Kebijakan lingkungan global seperti Paris Agreement perlu lebih menekankan restorasi lautan, seperti mengurangi polusi plastik, overfishing, dan emisi karbon yang mempercepat deoksigenasi lautan—di mana area "dead zone" dengan oksigen rendah telah bertambah 4,5 juta km².  

Di 2025, NOAA mencatat dead zone di Teluk Meksiko lebih kecil dari rata-rata, tapi tren jangka panjang tetap naik.  Pendapat saya, inisiatif seperti pemantauan satelit NASA PACE yang diluncurkan baru-baru ini harus didukung lebih luas untuk memahami dinamika fitoplankton secara real-time. 

Pada akhirnya, lautan bukan hanya sumber oksigen; ia adalah fondasi kehidupan. Dengan mengakui peran dominannya secara faktual, kita bisa membangun opini publik yang mendorong aksi nyata. Jika tidak, kita berisiko kehilangan "paru-paru" sejati Bumi ini, dan konsekuensinya akan dirasakan oleh generasi mendatang. Saatnya kita melihat ke birunya lautan, bukan hanya hijaunya hutan.

Oleh : Nowbytes

Simak berbagai berita pilihan dan terkini dari Lelemuku.com di Grup Telegram Lelemuku.com. Klik link https://t.me/lelemukucom kemudian join/bergabung. Pastikan Anda sudah menginstall aplikasi Telegram di ponsel.


Lelemuku.com - Cerdaskan Anak Negeri


Artikel Terkini Lainnya