Dealer vs. Leader: Bagaimana Rocky Gerung Membedakan Jokowi dan Prabowo
Dalam panggung politik Indonesia, Rocky Gerung telah memosisikan dirinya bukan sekadar sebagai kritikus, melainkan sebagai seorang "pedagog" seorang pendidik yang menggunakan rasionalitas untuk membedah kekuasaan.
Melalui kacamata logika formal, Rocky secara konsisten menarik garis demarkasi yang tegas antara Presiden ke-7, Joko Widodo (Jokowi), dan Presiden ke-8, Prabowo Subianto. Perbedaan pandangan ini bukan sekadar soal suka atau tidak suka, melainkan sebuah analisis mendalam mengenai tipologi kepemimpinan dan integritas moral.
Jokowi: "Dealer" dan Keruntuhan Moral Demokrasi
Bagi Rocky, Jokowi adalah representasi dari tipe pemimpin "dealer", yakni sosok yang mengelola negara dengan logika mencari untung, bukan dengan visi kepemimpinan yang berani mengambil risiko demi prinsip. Rocky menilai Jokowi telah melakukan "kemaksiatan tertinggi" terhadap bangsa dengan merusak demokrasi dan melumpuhkan partai politik yang membesarkannya demi kepentingan pribadi.
Salah satu serangan paling tajam Rocky terhadap Jokowi berkaitan dengan ambisi dinasti politik atau yang ia sebut sebagai "Klan Mulyono".
Rocky secara satir menyebut bahwa Jokowi tidak hanya melanggar konstitusi, tetapi juga melanggar Undang-Undang Perlindungan Anak karena dianggap mengeksploitasi anak-anaknya untuk masuk ke dunia politik yang keras di saat mereka belum matang secara politik.
Dasar ketidakpercayaan Rocky berakar dari rekam jejak Jokowi sejak di Solo, yang menurut informan Rocky (seorang tokoh rakyat bernama Rewang), penuh dengan narasi pencitraan yang manipulatif dan "tipu-tipu".
Prabowo: "Leader" yang Menghadapi Risiko "Titanic"
Berbeda dengan Jokowi, Rocky menempatkan Prabowo dalam kategori "leader" seorang pemimpin yang setidaknya memiliki keberanian untuk bertaruh dan menunjukkan pola kebijakan yang lebih jelas.
Rocky melihat Prabowo sedang berupaya menghidupkan kembali sistem sosial ekonomi berbasis sosialisme-populis yang bertujuan langsung menyejahterakan rakyat.
Namun, pandangan yang lebih positif ini bukan berarti tanpa kritik. Rocky tetap menyerang kebijakan Prabowo secara teknokrasi. Ia menyebut program populis seperti makan siang gratis sebagai "boros anggaran" yang berisiko membebani APBN tanpa hasil investasi yang jelas untuk membayar utang.
Selain itu, ia menyatakan kekhawatiran besar terhadap pembentukan Danantara, yang ia ibaratkan sebagai kapal Titanic sebuah institusi raksasa yang berisiko tenggelam karena potensi salah urus oleh kepentingan politik.
Menariknya, jika ada kesalahan fatal dalam komunikasi Prabowo seperti sikap paranoid terhadap lembaga asing Rocky cenderung menilainya sebagai akibat dari tim yang "kurang memberikan pengarahan" (poorly briefed), bukan sebagai cacat moral yang disengaja.
Jarak Antara Pemilihan dan Keputusan
Rocky menekankan adanya prinsip penting dalam transisi ini: "jarak antara election (pemilihan) dan decision (keputusan)". Meskipun Prabowo diuntungkan secara elektoral oleh dukungan Jokowi, Rocky menuntut agar dalam pengambilan keputusan, Prabowo harus berani memisahkan diri dari bayang-bayang kebijakan pendahulunya.
Ia melihat bahwa "kimia politik" antara keduanya hanyalah gumpalan kepentingan yang bersifat sementara dan akan segera memisah seiring dengan perbedaan agenda masa depan.
Secara keseluruhan, Rocky Gerung memandang Jokowi dengan kacamata moral-eksistensial karena dianggap telah merusak fondasi demokrasi Indonesia melalui dinasti dan kebohongan pencitraan. Sementara itu, ia memandang Prabowo dengan kacamata manajerial-teknokratis, di mana ia masih memberikan ruang bagi logika kebijakan namun tetap memberikan peringatan keras terhadap risiko kegagalan ekonomi.
Bagi Rocky, tantangan terbesar Prabowo adalah membuktikan bahwa ia adalah seorang pemimpin yang memiliki "Noblesse Oblige" tanggung jawab moral yang tinggi dan tidak akan terjebak dalam pola "dealer" yang sama.
Sebagai analogi untuk memantapkan pemahaman, Rocky Gerung melihat Jokowi seperti seorang pemilik rumah yang sengaja merusak instalasi listrik di rumahnya sendiri demi keuntungan jangka pendek, sementara ia melihat Prabowo seperti seorang nakhoda baru yang mencoba mengemudikan kapal besar di tengah badai dengan kompas yang terkadang salah arah, namun masih memiliki niat untuk sampai ke pelabuhan tujuan.
Oleh : Panji
Simak berbagai berita pilihan dan terkini dari Lelemuku.com di Grup Telegram Lelemuku.com. Klik link https://t.me/lelemukucom kemudian join/bergabung. Pastikan Anda sudah menginstall aplikasi Telegram di ponsel.
Lelemuku.com - Cerdaskan Anak Negeri
